Kucing Rabies: Gejala dan Pencegahan

Rabies adalah infeksi virus akut pada sistem saraf yang terutama menyerang hewan karnivora seperti kucing. Apa gejala kucing rabies dan bagaimana pencegahannya?

Rabies adalah penyakit yang disebabkan oleh virus. Virus ini dapat menginfeksi semua hewan berdarah panas, termasuk kucing dan manusia. Rabies adalah penyakit yang memiliki potensi dengan akibat yang fatal bagi siapa dan apapun yang ada di sekitar hewan yang sudah terjangkit.

Kucing Rabies
Kucing Rabies (shutterstock)

Penyakit rabies sudah diketahui dan terdeteksi sejak sekitar tahun 2300 SM. Saat ini penyebarannya sudah hampir ada di seluruh dunia. Beberapa negara diketahui bebas rabies (mayoritas adalah negara pulau kecil). Sayangnya Indonesia termasuk dalam negara yang memiliki ancaman rabies.

Apa Itu Rabies?

Rabies adalah virus yang mempengaruhi sistem saraf pusat. Virus ini biasanya ditularkan ketika hewan yang terinfeksi menggigit hewan atau manusia. Penyebaran akan dimulai di lokasi gigitan dan bergerak melalui tubuh di sepanjang saraf hingga mencapai otak.

Begitu virus rabies mencapai otak, hewan yang sudah terinfeksi akan mulai menunjukkan gejala dan biasanya akan mati dalam waktu 7 hari.

Penyebab Kucing Rabies

Penyebab rabies adalah virus rabies. Pada kucing, penularan rabies biasanya disebkan oleh gigitan hewan yang sudah terinfeksi oleh rabies. Sangat jarang hewan peliharaan baik kucing maupun anjing tertular rabies. Kebanyakan masalah serangan virus rabies banyak terjadi pada hewan liar.

Jika kucing tertular rabies, bisa saja kucing tertular dari gigitan hewan yang sudah terinfeksi rabies seperti kelelawar dan anjing liar. Rakun, sigung dan rubah adalah pembawa rabies yang umum namun hewan-hewan tersebut sangat jarang ditemukan berkeliaran di Indonesia.

Semakin banyak kontak kucing peliharaanmu dengan hewan liar, semakin tinggi risiko penularannya.

Ciri-ciri Kucing Rabies

Berikut ini ciri-ciri, gejala atau tanda kucing yang terkena virus rabies.

Tanda-tanda rabies pada kucing biasanya terlihat dalam tiga tahap: prodromal, eksitasi, dan paralitik yang semuanya akan dimulai melalui proses gigitan. Sebelum tanda-tanda rabies muncul, mungkin akan terlihat luka gigitan atau abses pada kucing.

Kucing Rabies
Kucing Rabies (shutterstock)

Masa inkubasi rabies pada kucing berlangsung satu hingga tiga bulan setelah terpapar (namun dalam beberapa kasus bisa bertahan lebih lama). Selama masa inkubasi ini, virus berpindah melalui tubuh ke sistem saraf dan pada akhirnya mencapai otak.

Tanda-tanda infeksi rabies muncul setelah masa inkubasi ini. Begitu tanda-tanda rabies muncul, kematian biasanya terjadi dalam waktu sekitar satu minggu. Dan hal yang pasti adalah, saat ini belum ada tes rabies pada hewan hidup.

Tahap Prodromal

Pada tahap ini terjadi perubahan perilaku pada kucing. Jika kucingmu pada awalnya adalah hewan yang “pemberani” dan suka keluyuran, secara tiba-tiba dia akan menjadi pemalu dan lebih suka bersembunyi. Dan sebaliknya, kucing yang memiliki sifat penakut akan menampakkan sifat menjadi lebih percaya diri dan pemberani.

Ditambah lagi kucing bisa menjadi lesu dan nafsu makannya bisa berkurang (bahkan hilang sama sekali). Perubahan perilaku dan kepribadian berbeda-beda tergantung kasusnya. Beberapa kucing akan menunjukkan perubahan kepribadian yang sangat mencolok saat virus menyerang otak.

Kucing lain hanya akan menunjukkan perubahan ringan pada awalnya, sehingga sulit untuk membuat diagnosis secara pasti. Tahap prodromal rabies biasanya berlangsung selama dua sampai tiga hari.

Tahap Eksitasi

Ini adalah tahap terganas pada rabies. Selama tahap eksitasi ini, kucing akan cenderung menunjukkan perubahan perilaku yang lebih ekstrim. Kucing akan tampak sering gelisah dan bereaksi berlebihan terhadap hal yang ada di sekitarnya (seperti suara dan gerakan).

Banyak kucing menjadi lebih agresif tanpa alasan yang jelas. Mereka mungkin akan menyerang apapun yang bergerak di sekitarnya baik itu manusia, hewan lain, dan benda apapun yang bergerak. Tahap eksitasi bisa berlangsung satu sampai tujuh hari.

Tahap Paralitik

Selama tahap akhir rabies, tubuh kucing akan lemas dan pada akhirnya terjadi kelumpuhan di kepala, leher, dan dada. Pangkal tenggorokan akan menjadi lumpuh dan kucing tidak dapat lagi bersuara atau menelan.

Pada tahap akhir inilah mulut akan mengeluarkan busa yang dikarenakan kucing tidak bisa menelan sehingga air liur menjadi berlebihan. Otot-otot yang mengontrol pernapasan juga tidak dapat berfungsi dengan normal karena lumpuh. Tahap paralitik rabies berlangsung selama dua hingga empat hari dan akhirnya menyebabkan kematian.

Kucing Rabies
Kucing Rabies (shutterstock)

Yang harus dipahami adalah bahwa setiap kasus rabies itu unik dan tanda-tanda rabies pada bisa saja berbeda dengan tanda-tanda yang dijelaskan di atas.

Satu-satunya cara untuk mendiagnosis rabies secara pasti adalah melalui analisis jaringan otak sehingga tidak mungkin mendiagnosis penyakit ini pada hewan yang masih hidup. Analisis hanya bisa dilakukan pasca setelah kematian, otak harus dikirim ke ahli patologi untuk diuji.

Kecepatan perkembangan virus rabies dan tanda-tanda klinis bergantung pada:

  • Tempat infeksi. Semakin dekat gigitan ke otak dan sumsum tulang belakang, semakin cepat virus mencapai jaringan saraf dan menyebabkan gejala
  • Tingkat keparahan gigitan
  • Jumlah virus yang disuntikkan melalui gigitan. Virus rabies tidak selalu ada dalam air liur hewan yang terinfeksi.

Cara Mengobati Kucing Rabies

Bagaimana cara mengobati kucing rabies?

Sayangnya, saat ini belum ada pengobatan atau obat untuk rabies pada kucing. Begitu gejala muncul, kesehatan kucing akan memburuk dengan cepat dan akan mati dalam hitungan hari.

Jika kucing mulai menunjukkan gejala, tidak ada yang dapat dilakukan bahkan oleh dokter hewan sekalipun karena belum ada pengobatan atau obat untuk rabies pada kucing. Begitu gejala muncul, kesehatan kucing akan memburuk dengan cepat dan akan mati dalam hitungan hari.

Jika kucingmu sudah pernah mendapatkan vaksin rabies dan kemudian muncul-muncul gejala rabies setelah dipastikan tergigit hewan lain, kucing harus segera dikarantina dan pada normalnya dokter hewan akan memberikan vaksin rabies ulang sebagai penguat.

Penting untuk diketahui bawah suntikan vaksinasi rabies ulang ini bukanlah tindakan pengobatan. Ini hanyalah sebuah penguat saja. Antibodi anti-rabies yang dihasilkan oleh vaksinasi pasca gigitan hanya efektif jika diberikan sebelum virus rabies memasuki sistem saraf.

Begitu berada di sel saraf, virus menyebar ke sepanjang serabut saraf, di mana virus akan dilindungi dari serangan antibodi.

Penanganan

Jika memang kucing terbukti tergigit hewan liar yang berpotensi menyebarkan virus rabies dan sudah menunjukkan gejala-gejala rabies, segera bawa kucing ke dokter hewan untuk diambil tindakan sesuai prosedur.

Kucing yang diketahui terpapar rabies dengan gejala apa pun, bahkan yang samar sekalipun, perlu dikarantina untuk melindungi manusia dan hewan lain dari penularan.

Kucing Rabies
Kucing Rabies (shutterstock)

Jika kucing memang benar-benar menunjukkan gejala terinfeksi rabies, prosedur yang biasa dilakukan oleh dokter hewan adalah menyuntik mati kucing untuk meringankan penderitaannya dan untuk melindungi orang lain serta hewan peliharaan lainnya.

Jika kucingmu mati mendadak karena dicurigai sebagai rabies, dokter hewan mungkin merekomendasikan untuk memeriksakan sampel dari otak kucing yang sudah mati. Pengujian langsung pada otak adalah satu-satunya cara untuk mendiagnosis rabies dengan pasti.

Baca juga:

Apakah Rabies Menular ke Manusia?

Penyakit ini bersifat zoonosis, artinya dapat ditularkan dari hewan ke manusia. Kucing rabies dapat menularkan virus ke pemiliknya. Penularan virus rabies memerlukan proses kontak langsung dengan air liur hewan yang terkena.

Tidak berarti kita bisa tertular rabies jika kucing hanya menjilat atau meneteskan air liurnya pada manusia. Air liur harus bersentuhan dengan selaput lendir atau kulit yang rusak (seperti masuk melalui luka di kulit).

Jika kamu digigit hewan yang mungkin terkena rabies, segera basuh luka sampai bersih dengan sabun dan air serta segera berkonsultasilah dengan dokter (dokter manusia, bukan dokter hewan, atau segera menuju IGD rumah sakit terdekat).

Hewan paling sering menularkan rabies ke manusia melalui gigitan. Manusia mungkin saja tertular rabies dari cakaran hewan, tetapi itu sangat jarang. Jika kamu merasa telah terpapar rabies, segera hubungi dokter untuk melakukan serangkaian tindakan untuk mencegah infeksi berkembang.

Mencegah Kucing Rabies

Bagaimana supaya kucing bebas dari serangan rabies?

Tindakan pencegah yang terbaik tentu saja dengan memberikan vaksinasi rabies. Bahkan vaksinasi rabies diwajibkan oleh hukum di sebagian besar negara bagian dan provinsi (termasuk di Indonesia).

Vaksinasi Kucing Rabies
Vaksinasi Kucing Rabies (shutterstock)

Vaksinasi rabies pada kucing penting untuk keselamatan manusia dan juga kucing. Vaksin rabies sangat efektif untuk menangkal rabies dan idealnya diberikan kepada anak kucing pada usia tiga sampai empat bulan. Bergantung pada undang-undang negara masing-masing negara dan saran dari dokter hewan, vaksinasi ulang akan direkomendasikan pada interval tertentu.

Baca juga:

Virus Rabies di Indonesia

Diambil dari sumber kemkes.go.id, angka kematian akibat rabies di Indonesia masih cukup tinggi yakni 100-156 kematian per tahun, dengan tingkat kematian hampir 100 persen.

Hal ini menggambarkan bahwa rabies masih jadi ancaman bagi manusia dan hewan. Secara statistik 98% penyakit rabies ditularkan melalui gigitan anjing, dan 2% penyakit tersebut ditularkan melalui kucing dan kera.

Dari 34 provinsi di Indonesia, hanya 8 provinsi yang bebas rabies, sementara 26 provinsi lainnya masih endemik rabies. 8 provinsi tersebut adalah Kepulauan Riau, Bangka Belitung, Papua, Papua Barat, DKI Jakarta, Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur.

Jadi jika kamu tinggal di selain 8 provinsi tersebut, ada baiknya segera berkonsultasi dengan dokter hewan terakait pemberian vaksinasi rabies pada kucing kesayanganmu.

Kesimpulan

Rabies adalah serangan virus yang sangat mematikan. Banyak hewan termasuk kucing tidak selamat ketika sudah terserang oleh rabies. Dan bahaya lainnya adalah rabies bisa menular kepada manusia dan hewan peliharaan lain.

Untuk mencegah kucing rabies, langkah terbaik tentu saja sedini mungkin kucing harus diberikan vaksinasi rabies. Namun vaksin rabies ini tidak selalu diberikan kepada kucing tergantung berada di wilayah mana kucing tersebut tinggal. Jika kucing berada di wilayah yang aman dari rabies, dokter hewan biasanya tidak akan merekomendasikan pemberikan vaksin rabies.

Namun sebagai pemilik kucing, meski kita tinggal di daerah yang aman rabies, kita juga berhak untuk mendapatkan suntikan rabies kepada kucing peliharaan. Jadi langkah terbaik adalah berkonsultasilah dengan dokter hewan.

Catatan: Artikel ini hanya untuk informasi. Kunjungi dokter hewan untuk nasihat dan perawatan medis.

Bucing yang berada di balik blog kucingmania.net ini. Mengabdikan sebagian hidupnya melayani 5 ekor kucing peliharaan. Senang mempelajari perilaku kucing dan membagikan pengetahuan tentang kucing dengan para pecinta kucing.

Tinggalkan komentar